Nuri
Sulit untuk menemukan anak yang mau menyapa duluan hari gini. Bahkan aku termasuk salah satunya (yang sulit menyapa duluan).
Aku gak tau benar tentang burung nuri. Apakah dia cantik? Sering menyapa? Ceria? sering tersenyum? (memangnya burung tersenyum?) Entah.. Tapi kalau Nuri yang satu ini, Aku tau.
Sebenarnya kita kenalan gak jauh lama. Baru beberapa jam terakhir malah! Waktu itu aku pulang sekolah. Memakai seragam muslim karena hari ini hari jum'at. Kira-kira waktu itu masih jam 11 siang. Aku baru turun dari angkot dan meneruskan perjalananku dengan berjalan kaki. Lalu dari suatu gang sedang di sebelah kiri ku, si Nuri itu keluar.
Seorang gadis muda yang berkerudung dan memakai seragam sekolah juga. SMP. Yang mencolok adalah, ia tersenyum!
Aku baru satu semester ini pindah ke daerah baru ini. Jadi tidak banyak pula orang yang ku kenal. Ibu-ibu, bapak-bapak, maupun anak-anak yang kebanyakan masih kelas 4 atau 5 SD. Karena tidak terlalu pede untuk ikutan obrolan-obrolan mereka, aku pun biasanya tersenyum saja atau sekedar lewat. Yang penting tidak menunjukan sikap sombong dan meremehkan. Tapi aku terkejut ketika hari ini, gadis itu keluar dan memberikan senyuman innocent dan tulusnya.
Setelah tersenyum, ia meneruskan jalannya, yang kebetulan searah denganku.
Aku sempat berpikir kalau ia tersenyum ke seseorang dibelakangku. Tapi setelah beberapa langkah berjalan, ia menoleh ke belakang dan tersenyum lagi kepadaku. Aku tentu saja membalas senyumnya balik. Sampai di depan mesjid, barulah ia menoleh lagi padaku, tersenyum, dan kali ini menyapaku.
"Dari SMP 19, ya?"
"Iya." aku jawab. Sepertinya ia melihat dari bet SMP ku yang terpapar jelas di seragam. "Kamu dari mana?" aku tanya balik.
"Dari SMP 31." Ia menyebutkan SMP yang lumayan dekat dari sini.
"Kelas berapa?" tanya dia lagi.
"Kelas 9." jawabku. "Kamu?"
"Kelas 1." jawabnya sambil tersenyum agak malu. Mungkin karena ia baru sadar aku lebih tua darinya. Selama ini dia tidak memakai kata hormat seperti 'kakak', tapi aku menganggapnya biasa. Sudah bagus dia bisa inisiatif menyapa duluan.
"Oo.., mau ke sana (SMP 31), ya?" tanyaku.
"Iya."
"Masuk siang?"
"Iya."
Aku mengangguk. "Eh, namanya siapa?" tanyaku.
"Nuri." jawabnya anggun.
*Komenku: Cantik... Namanya cantik sekali. Anaknya juga^^. Apalagi sifatnya ^_^*
Lalu dia bertanya lagi. Kali ini lebih sopan. "Kakak rumahnya dimana?"
Kebetulan banget saat itu sudah saatnya aku berbelok ke kanan. Sedangkan setahu aku SMP 31 arahnya lurus. Aku menyayangnkan dan tersenyum padanya. "Hehe.. ke sana." tunjukku ke cabang jalan di depan. Lalu tanpa aba-aba kita berpisah. Sebelum benar-benar berpisah ia menengok kepadaku lagi dan kami akhirnya menyudahi percakapan dengan lambaian tangan.
Sesuadah perpisahan itu. Aku menghayal-hayal kapan kita bisa bertemu lagi. Karena anak itu sangat friendly dan menyenangkan. Sulit untuk menemukan anak yang mau menyapa duluan hari gini. Bahkan aku termasuk salah satunya (yang sulit menyapa duluan). Dan aku pun kagum pada Nuri yang berani dan dapat dengan ramahnya menyapaku tadi. Sepertinya tidak susah.
Anak seperti itulah yang akan menjadi 'kembang' nanti. Punya banyak teman dan pasti disayang. Semoga aku bisa menjadi seperti dia. Belajar darinya. Anak manis yang bernama Nuri itu.
